CERITA MUMI

Koleksi Cerita Mumifikasi Terbaru

Cerita BondageCerita DewasaCerita MumiCerita PenyiksaanCerita Seks

Anya Diculik Dan Dimumifikasi dari Lokasi Syuting

Anya selalu mengira dirinya sudah terbiasa direndahkan demi seni. Di usia dua puluh tujuh tahun, tubuhnya sudah pernah menjadi bagian belakang kostum keledai, pernah dicat biru-ungu hingga memar karena efek zombie, pernah dipukul keras oleh aktor ternama hanya karena sutradara ingin “realisme”. Yang terakhir itu masih terasa hingga kini. Waktu itu Dimas, aktor utama yang terkenal sombong, menatapnya dengan mata menyipit setelah Anya—lelah karena take kesepuluh—bergumam, “Udah, beneran aja pukul, pasti jadi.” Tanpa kata lagi Dimas menarik pinggang Anya kasar, membalikkan tubuhnya hingga perutnya terbanting di atas pangkuan pria itu, rok kotak-kotaknya disingkap tinggi hingga pantatnya yang hanya ditutupi celana dalam tipis putih terlihat semua orang di lokasi. Udara dingin studio terasa menusuk kulitnya yang tiba-tiba telanjang. Lalu telapak tangan Dimas yang besar dan keras mendarat tepat di bokong Anya—plak! Suara itu menggema, keras, memalukan, dan nyeri yang membara langsung menyebar seperti api liar. Anya menahan jeritan, giginya menggigit bibir dalam hingga terasa darah, air matanya menetes tanpa izin. Dimas tidak berhenti di satu pukulan; ia mengayunkan lagi, lagi, lagi, setiap tamparan membuat daging bokong Anya bergoyang dan memerah, rasa panas yang menyiksa bercampur rasa malu yang membanjiri dadanya. Di antara pukulan ketiga dan keempat, Anya merasakan sesuatu yang mengerikan—selangkangannya mulai basah, bukan karena urin, melainkan karena cairan lendir hangat yang keluar dari vaginanya sendiri. Tubuhnya berkhianat. Ia membenci dirinya saat itu. Sutradara Rangga hanya tersenyum puas dari belakang monitor, “Perfect! Itu baru reaksi asli!” Sementara Anya pulang dengan memar ungu kebiruan yang bertahan berminggu-minggu, dan setiap kali duduk ia masih merasakan nyeri yang berdenyut-denyut, seolah tangan Dimas masih menamparnya.

Beberapa bulan kemudian, ketika memar itu akhirnya memudar, Anya mendapat tawaran lagi dari Rangga—kali ini untuk film horor-petualangan bertema Mesir kuno. Ia membayangkan dirinya berlari di gurun, memegang obor, melawan roh firaun. Yang didapat justru peran “mumi latar belakang” selama lima hari. Bayaran kecil, tapi cukup untuk makan. Ia menerima.

Ruang make-up dingin dan berbau bahan kimia. Hadi, teknisi efek senior, memandang Anya dengan tatapan profesional yang dingin. “Lepas semua pakaianmu, Anya. Semuanya.” Anya menurut, telanjang bulat di depan pria itu tanpa rasa malu lagi—sudah terlalu sering telanjang di lokasi syuting. Tubuhnya yang ramping, payudara padat berukuran 34C dengan putingnya yang selalu sedikit menegang karena udara dingin, pinggul melengkung, dan bulu kemaluan yang dicukur rapi membentuk garis tipis, semua terpapar. Hadi mulai memasang rangka logam. Lingkaran besi dingin melingkari dahinya, menekan kulit hingga terasa seperti mahkota duri. Lalu tali-tali kulit tebal mengikat kuat di bawah payudaranya, meremas hingga napasnya sesak, putingnya terjepit dan mengeras karena tekanan. Sabuk logam lebar mengunci pinggangnya, lalu—yang paling memalukan—sebatang logam panjang dan tebal sekitar 20 cm dengan ujung bulat didorong perlahan dari selangkangannya. Anya menggigit bibir ketika logam dingin itu menyentuh bibir vaginanya yang masih sensitif, lalu mendorong masuk ke dalam lubangnya yang kering. “Tenang saja, ini cuma penyangga biar posisimu lurus,” uka Hadi datar. Tapi Anya merasakan setiap senti logam itu merenggangkan dinding vaginanya, dingin dan keras, membuatnya merinding hingga ke tulang punggung. Logam itu berhenti tepat di ujung rahimnya, menekan titik sensitif hingga ia hampir mendesah tanpa suara. Sabuk besar kemudian mengunci semuanya, membuat batang itu tak bisa keluar lagi.


Selanjutnya popok dewasa tebal—putih, mengembang, memalukan. Hadi memasangkannya dengan santai, jari-jarinya tak sengaja (atau sengaja) menyentuh klitoris Anya yang menegang. “Maaf ya, tapi kalau kamu ngompol nanti kita gak bisa buka semua ini lagi. Bisa berjam-jam.” Anya hanya mengangguk, wajahnya memerah karena malu dan karena sensasi aneh yang mulai mengalir di selangkangannya—logam di dalam vaginanya bergeser sedikit setiap kali ia bernapas.

Lalu perban basah mulai dililitkan. Dari pangkal paha, naik menutupi popok, menekan batang logam lebih dalam lagi hingga Anya meringis. Setiap lilitan terasa seperti pelukan ular yang semakin erat. Kakinya dibungkus rapat hingga tak bisa menekuk, betisnya terasa mati rasa. Ketika tiba di dadanya, Hadi sengaja membiarkan puting Anya telanjang lebih lama, jarinya seolah tak sengaja menggosok puting yang mengeras itu hingga Anya mengejang. Baru kemudian perban menutupi payudaranya, meremas hingga terasa seperti dijepit kuat, putingnya bergesekan dengan kain kasar setiap kali ia menarik napas. Lengan, leher, hingga wajah. Bola karet besar dengan lubang kecil dimasukkan ke mulutnya—membuat rahangnya terbuka lebar, lidahnya tertekan, air liur langsung mengalir tanpa bisa ditelan sepenuhnya. Dua selang plastik kecil dimasukkan ke lubang hidungnya, terasa mengganggu tapi memberi udara. Terakhir, kepalanya dililit rapat hingga hanya tersisa celah tipis di depan mata—dunia menjadi garis sempit yang gelap.

Saat itu juga Anya merasa bukan lagi manusia. Ia adalah benda. Tubuhnya kaku, napasnya tersengal melalui selang, vaginanya terisi penuh oleh logam dingin, payudaranya terjepit, pantatnya tertekan popok tebal. Setiap detik terasa seperti terkubur hidup-hidup. Ia merasa cairan lendir mulai keluar lagi dari dalam vaginanya, membasahi logam dan popok—tubuhnya bereaksi terhadap perlakuan kasar ini tanpa izin.

Selama tiga hari syuting, Anya hanya digeser di atas troli, disandarkan ke dinding piramida buatan, diputar-putar seperti patung. Ia tak bisa berbicara, tak bisa menggaruk ketika gatal, tak bisa menutup mulut yang terbuka lebar hingga air liur menetes perlahan ke perban dada. Yang paling menyiksa adalah tekanan konstan batang logam di dalam vaginanya—setiap guncangan troli membuatnya bergesek di dinding sensitifnya, membuat klitorisnya membengkak dan berdenyut tanpa henti. Ia beberapa kali hampir mencapai orgasme hanya karena guncangan itu, tapi tak pernah sampai, hanya meninggalkan rasa lapar yang menyiksa.
Hari keempat, saat aktor utama meminta istirahat panjang, Anya ditinggal sendirian di gudang studio, disandarkan ke dinding, tubuhnya kaku seperti batu. Cahaya redup, suara kru menjauh. Ia mulai pasrah, hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan merasakan vagina yang basah terus menerus.
Lalu langkah kaki mendekat.

Tiga pemuda muncul dari bayangan—wajah asing, mata lapar. Yang berkumis tipis berbisik, “Ini dia yang dimaksud Pak Bos. Mumi hidup.” Mereka mendekat, tangan mereka langsung meraba-raba tubuh kaku Anya. Jari-jari kasar menyusuri lekuk perban di dadanya, menekan payudara yang terjepit hingga Anya mengejang dalam diam. Yang lain meraba bagian selangkangan—tepat di atas popok yang sudah mulai basah oleh cairan Anya sendiri. “Anjir, ini beneran basah banget,” bisik salah satu, suara serak penuh nafsu. Mereka tertawa pelan.

Anya ingin menjerit. Bola karet di mulutnya hanya mengeluarkan suara “mmphh” lemah. Mereka tak peduli. Dengan cepat mereka mengangkat tubuhnya yang berat karena rangka logam, memasukkan Anya ke dalam peti kayu panjang yang sudah disiapkan. Jerami kering menusuk perban, tapi ia tak bisa menghindar. Tutup peti ditutup, paku dipukul satu per satu—tok! tok! tok!—setiap dentuman seperti palu di kepalanya. Gelap total. Hanya napasnya sendiri yang terdengar menderu melalui selang hidung, dan detak jantung yang semakin kencang.

Peti digoyang-goyang, diangkat, dimasukkan ke bagasi van. Mesin menyala. Perjalanan dimulai. Setiap guncangan jalan membuat batang logam di dalam vagina Anya bergeser keras, menggosok dindingnya tanpa ampun. Anya menangis dalam diam, air matanya meresap ke perban. Rasa takut bercampur dengan sensasi erotis yang tak diinginkan—vaginanya semakin basah, klitorisnya berdenyut liar, hingga akhirnya, di tengah jalan yang bergoyang-goyang, tubuhnya menge kejang kecil dalam orgasme paksa pertamanya. Cairan hangat membanjiri popok, ia merasa kotor, hina, tapi juga puas yang mengerikan.

Berjam-jam kemudian van berhenti. Pintu bagasi terbuka, udara segar menyelinap masuk. Peti diseret keluar, tutup dibuka dengan kasar. Cahaya neon menyilaukan celah kecil di matanya. Empat pria sekarang—tiga pemuda tadi dan satu pria lebih tua, berjas rapi, bernama Reza, yang tersenyum lebar. “Sempurna sekali,” katanya lembut sambil menatap tubuh Anya yang terbungkus rapat. Jari Reza menyentuh perban di wajah Anya, lalu turun ke dada, menekan keras hingga payudara Anya terasa seperti diremas kasar. “Bahkan putingnya masih keras. Bagus.”
Pemuda-pemuda itu dibayar dan disuruh pergi. Tinggal Reza dan dua anak buahnya. Mereka mengangkat peti lagi, membawa Anya masuk ke gedung megah yang ternyata kasino ilegal di pinggiran kota. Di tengah ruangan VIP, ada kotak kaca besar setinggi manusia, bertema Mesir, dengan lampu sorot dari atas. Mereka mengangkat tubuh Anya dari peti, meletakkannya berdiri di dalam kotak kaca itu. Rangka logam dikunci ke lantai sehingga Anya tak bisa roboh. Tubuhnya kaku, tegak, seperti patung mumi sungguhan.

Reza mendekat, suaranya rendah dan penuh nafsu, “Selamat datang di rumah baru kamu, mumi kecil.” Ia mengeluarkan gunting kecil, mulai memotong perban hanya di bagian selangkangan—tepat di atas popok. Potongan perban terbuka, memperlihatkan popok tebal yang sudah basah kuyup dan berbau amis cairan kewanitaan. Reza tertawa pelan. Ia membuka kancing popok perlahan, memperlihatkan batang logam yang masih tertancap dalam vagina Anya yang merah dan bengkak. “Lihat ini… dia sudah basah sekali dari tadi.” Jari Reza menyentuh klitoris Anya yang menon, menggosok pelan tapi tegas. Anya mengejang hebat, “mmphh!” jeritannya tertahan bola karet. Tubuhnya berkedut, cairan baru mengalir deras.

Reza tak berhenti. Ia membuka resleting celananya sendiri, mengeluarkan penisnya yang sudah tegang, besar, berurat. Dengan satu gerakan ia mencabut batang logam dari vagina Anya—rasa kosong yang menyiksa membuat Anya hampir pingsan—lalu langsung mendorong penisnya masuk ke dalam lubang yang sudah licin itu. Panas, keras, jauh lebih besar dari logam tadi. Anya merasa diregangkan hingga batas, dinding vaginanya memeluk erat batang Reza yang bergerak masuk-keluar dengan ritme kasar. Setiap dorongan membuat payudaranya yang terjepit bergoyang dalam perban, putingnya bergesekan kasar hingga nyeri nikmat. Reza meremas bokong Anya dari belakang perban, menarik tubuh kaku itu lebih keras ke penisnya. “Kamu milikku sekarang,” bisiknya di telinga Anya yang tertutup perban. Tubuh Anya bereaksi liar—orgasme kedua datang lebih cepat, lebih kuat, membuat kakinya (yang tak bisa menekuk) bergetar hebat dalam ikatan. Reza terus memompa, napasnya memburu, hingga akhirnya menyemprotkan cairan panasnya jauh di dalam rahim Anya. Ia keluar, menepuk pipi Anya yang terbungkus, “Bagus. Besok malam ada tamu VIP yang mau mencoba mumi spesial ini.”


Perban selangkangan ditutup kembali dengan lakban hitam, popok baru dipasang, tapi kali ini tanpa batang logam—hanya penis Reza yang baru saja meninggalkan sperma hangat di dalam sana. Kotak kaca ditutup rapat. Lampu sorot dinyalakan. Pengunjung kasino mulai berdatangan.

Malam itu, puluhan pasang mata menatap Anya di balik kaca. Beberapa tertawa, beberapa terpana, beberapa mengambil foto. Ada yang mengetuk kaca tepat di depan selangkangannya, ada yang berbisik cabul. Anya hanya bisa berdiri kaku, sperma Reza perlahan mengalir keluar membasahi popok baru, vagina yang masih berdenyut, puting yang sakit karena terjepit berjam-jam, mulut terbuka lebar dengan air liur menetes tanpa henti. Rasa malu, takut, dan gairah kotor bercampur menjadi satu.

Hari demi hari berlalu. Setiap malam, setelah kasino tutup, Reza atau anak buahnya datang membuka kotak kaca. Mereka memperlakukan Anya seperti mainan hidup—membuka hanya bagian selangkangan, memasukkan penis mereka satu per satu, mengisi tubuhnya dengan cairan panas, meninggalkan Anya bergetar dalam orgasme paksa berulang kali. Kadang mereka memutar tubuhnya, membuka perban bokong, dan memasuki lubang belakangnya yang masih perawan—rasa nyeri yang membakar bercampur kenikmatan terlarang membuat Anya menangis tanpa suara. Kadang mereka memasukkan vibrator besar yang diikat ke rangka logam, membiarkannya bergetar sepanjang malam hingga Anya kejang-kejang dalam orgasme yang tak berhenti, cairannya membanjiri lantai kaca.

Tubuhnya tak pernah dibersihkan sepenuhnya. Bau keringat, sperma, dan cairan kewanitaan menempel di perban. Popok selalu basah. Napasnya selalu tersengal. Tapi yang paling mengerikan—tubuhnya mulai menanti saat kotak kaca dibuka setiap malam. Ia mulai mendambakan dorongan keras itu, rasa penuh yang kasar, orgasme yang memalukan. Ia bukan lagi Anya sang aktris. Ia adalah mumi hidup, artefak seks, benda milik kasino itu.

Bulan demi bulan berlalu. Tidak ada yang mencarinya. Rangga mengira Anya berhenti dari dunia akting. Keluarganya jauh. Di dalam kotak kaca yang megah itu, Anya tetap berdiri tegak, mata hanya melihat garis tipis dunia luar, tubuhnya terbungkus rapat, vagina dan anusnya selalu siap menerima tamu berikutnya. Kadang, ketika lampu sorot sangat terang, orang-orang bisa melihat noda basah yang semakin melebar di bagian selangkangan perban—tanda bahwa mumi itu bukan benda mati, melainkan wanita yang masih bernapas, masih basah, masih merintih tanpa suara.

Dan jika suatu hari kamu masuk ke kasino bawah tanah itu, dan melihat mumi di kotak kaca tengah yang selangkangannya selalu basah, yang kadang tubuhnya bergetar pelan tanpa sebab—ketahuilah, itu Anya. Ia masih di sana. Masih menunggu. Mungkin menunggu diselamatkan. Mungkin juga menunggu penis berikutnya yang akan membuatnya menjerit dalam kenikmatan terlarang yang tak pernah ia minta, tapi kini tak bisa ia tolak lagi.