CERITA MUMI

Koleksi Cerita Mumifikasi Terbaru

Cerita BondageCerita DewasaCerita MumiCerita PenyiksaanCerita Seks

Dinda : Model yang Tak Berdaya Dimumifikasi

Dinda baru berusia 22 tahun, tapi malam itu dia merasa seperti boneka hidup yang jatuh ke tangan orang-orang yang haus akan keputusasaan.

Tubuhnya mungil—hanya 148 cm—dengan pinggang kecil yang bisa dilingkari dua tangan laki-laki dewasa, payudara montok ukuran 34C yang selalu terlihat menonjol di balik kaus ketat, dan bokong bulat yang membuat rok pendeknya selalu naik sedikit terlalu tinggi. Kulitnya putih susu, rambut hitam panjang sampai pinggang, mata coklat besar yang selalu tampak polos. Teman-temannya sering menggodanya, “Kamu mirip Nara, sepupu kamu itu—boneka sex hidup!” Dinda cuma tertawa malu-malu. Tapi malam ini, dia benar-benar akan jadi boneka. Boneka yang tak bisa menolak.

Ibunya terbaring di rumah sakit, tagihan operasi sudah mencapai 28 juta. Beasiswa kuliah terancam dicabut. Gaji barista cuma cukup buat makan mie instan. Saat iklan itu muncul di Instagram—“Model wanita untuk performa seni unik. 15 juta satu malam. Rahasia terjamin.”—Dinda langsung DM. Balasan datang dalam hitungan detik: “Kamu sangat cocok. Besok malam, villa Puncak. Jangan bilang siapa-siapa.”

Malam berikutnya, mobil hitam menjemputnya. Sepanjang perjalanan ke Puncak, sopir tak bicara sepatah kata pun. Villa megah berdiri di tengah hutan pinus, lampu-lampu redup, puluhan mobil mewah terparkir. Udara dingin menusuk kulit. Seorang pria paruh baya berjas hitam menyambutnya di teras. “Selamat datang, Dinda. Malam ini kamu bintang utama kami. Komunitas seni kami sangat eksklusif.”

Dinda tak tahu bahwa “komunitas seni” itu adalah 27 orang kaya raya—pria dan wanita—yang membayar ratusan juta per tahun hanya untuk menonton gadis mungil seperti dia dirantai, dibungkus, dan dipermainkan sampai menangis.


Ruang ganti kecil, bau parfum mahal.

“Pakai ini. Tanpa daleman,” kata pria itu sambil menyodorkan bikini merah mengkilap, tali tipis, cup segitiga yang hampir tak menutupi apa-apa. Dinda menelan ludah. Ingat tagihan rumah sakit. Dia melepas celana dalamnya, merasakan udara dingin langsung menyentuh bibir vaginanya yang sudah mulai basah karena gugup. Saat keluar, 27 pasang mata langsung menelanjanginya. Putingnya mengeras di balik kain tipis, bokongnya terlihat bulat sempurna. Sorak sorai pelan terdengar.

Ruangan utama luas, lantai dipanaskan, matras putih tebal di tengah, dikelilingi kursi kulit hitam melingkar. Lampu sorot terang membakar kulit.

“Duduk di sini, pose compact squat,” perintah sang penyelenggara, Mas Ardi. Dinda menurut. Lutut ditekuk ekstrem sampai menyentuh dada, betis menempel paha, tumit menekan bokong, tangan memeluk lutut sendiri. Tubuh mungilnya langsung menyusut jadi bola kecil—payudara terjepit di antara paha, vagina terbuka sedikit karena posisi, klitorisnya terlihat mengintip dari balik tali bikini.

“Buka mulut lebar-lebar, sayang.”

Bola busa merah sebesar bola tenis dipaksa masuk. Rahang Dinda langsung perih, air liur langsung menetes. Lakban merah lebar langsung melilit kepala—10 putaran ketat. Bibirnya tertutup total, hanya “mmmphhh!” kecil yang keluar. Matanya masih terbuka, penuh ketakutan.

Lalu pembungkusan dimulai.

Lakban merah melilit dari jempol kaki sampai leher—lapis demi lapis, setiap putaran lebih ketat dari sebelumnya. Paha terjepit, bokong tertekan, payudara terkompresi sampai putingnya sakit nikmat, vagina tertutup lakban tapi tekanannya membuat klitorisnya berdenyut tanpa henti. Dalam 15 menit, Dinda sudah jadi mumi merah mengkilat, hanya mata dan hidung yang terlihat. Tubuhnya diletakkan telentang di matras seperti patung hidup. Penonton bertepuk tangan keras.

“Klimaks pertama!” seru Mas Ardi.

Dua jari menempelkan lakban di hidung Dinda—total blackout napas.

Dunia langsung gelap. Dada sesak. Panik meledak. Dinda meronta sekuat tenaga—tubuh mumianya berguling-guling di matras, bokong mengkilat terangkat, payudara bergoyang di dalam balutan ketat, “MMMMMPPHHH! MMMMMPPHHH!” Erangannya teredam, tapi getarannya membuat penonton kegirangan. Ponsel-ponsel merekam close-up wajahnya yang memerah, air mata mengalir. Tiga menit penuh. Tepat sebelum pingsan, lakban hidung dibuka. Dinda menghirup udara seperti orang tenggelam, dada naik-turun cepat, vagina berdenyut liar karena adrenalin.

Istirahat lima menit. Napasnya pelan-pelan tenang, tapi tubuhnya sudah basah keringat dan cairan sendiri.

Lapis kedua: lakban oranye. Lebih tebal, lebih ketat. Gerakan Dinda kini hanya getar kecil. Hidung ditutup lagi—rontaan lebih lemah, lebih sensual, seperti boneka getar.

Lapis ketiga kuning, lapis keempat hijau, lapis kelima biru. Setiap lapis membuat tubuhnya semakin kaku, semakin berat. Setelah lapis kelima, Dinda sudah seperti bola tebal multiwarna—hanya mata yang masih berkedip ketakutan. Hidung ditutup 4 menit penuh. Tubuhnya kejang-kejang, vagina memuncrat cairan kecil di dalam lakban, orgasme paksa pertama malam itu. Dia pingsan. Dibuka, disadarkan dengan tepukan pipi. Air mata bercampur air liur menetes ke dagu.


Sekarang bagian yang paling ditunggu.

Mas Ardi menggunting lakban di selangkangan—vagina Dinda terbuka lebar, bibirnya memerah bengkak, klitoris menonjol keras, sudah banjir. Bikini bagian bawah disobek total.

“Mainan malam ini,” katanya sambil mengangkat dildo hitam monster—20 cm panjang, 5 cm tebal, berurat, bergetar.

Hidung Dinda ditutup lagi. Dildo pertama langsung dihujamkan sampai pangkal. “MMMMMMPPHHHHH!!!” Jeritannya teredam, tubuhnya melengkung sekuat balutan izinkan. Piston cepat, keluar-masuk brutal. Cairan menyembur setiap dorongan. Orgasme kedua datang dalam 30 detik, tubuhnya kejang hebat.

Giliran berganti.

Peserta kedua: putar dildo di dalam, aduk-aduk dinding vagina sampai Dinda menangis tersedu.

Ketiga: pompa super cepat sambil jari menggosok klitoris—orgasme ketiga, cairan menyemprot jauh.

Keempat dan kelima bareng: satu di vagina, satu di anus. Dinda merasa tubuhnya robek, tapi kenikmatan paksa membuat pinggulnya berusaha goyang.

Keenam tambah vibrator kecil di klitoris—getaran ganda membuat Dinda pingsan lagi, bangun lagi, pingsan lagi.

Semua 27 orang ambil giliran. Ada yang dua dildo sekaligus (vagina + anus), ada yang tiga jari di anus sambil dildo di vagina, ada yang hanya menggesek-gesek ujungnya di klitoris sampai Dinda menggeliat putus asa. Setiap kali hampir mati lemas, hidung dibuka 10 detik, lalu ditutup lagi. Dinda kehilangan hitungan orgasme—mungkin 15, mungkin 20. Tubuhnya banjir cairan, matras basah, bau sex memenuhi ruangan.

Fajar menyelinap lewat jendela saat lakban terakhir disobek.

Dinda terbaring lemas, tubuh penuh bekas lakban merah, vagina bengkak memerah, anus sedikit terbuka, puting bengkak, wajah penuh air mata dan air liur. Napasnya tersengal. Tapi saat amplop tebal 15 juta (cash) dimasukkan ke tangannya, dia hanya bisa tersenyum lemah.

Mas Ardi membungkuk di dekat telinganya, berbisik,

“Minggu depan kami ulang. Tema baru: vacuum bed + breathplay 10 menit non-stop. Bayarannya 30 juta. Mau?”

Dinda menatap langit-langit, tubuhnya masih bergetar sisa orgasme, vagina berdenyut pelan.

Dia tahu jawabannya.

“Iya, Mas… aku mau. Ibu butuh operasi lanjutan.”

Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, dia menambahkan,

“Dan… aku juga mulai suka rasanya… jadi boneka yang tak berdaya.”

Mobil yang sama mengantarnya pulang saat matahari terbit.

Di jok belakang, Dinda memejamkan mata, jari-jarinya tanpa sadar menyentuh selangkangan yang masih basah.

Dia tahu, ini baru malam pertama.

Dan dia sudah ketagihan.