Jadi Boneka Mumi Demi Bertahan Hidup
Dinda berdiri di depan cermin kamar kosannya yang kecil, menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Tingginya hanya 140 cm, tubuhnya ringan seperti boneka—40 kg—dengan kulit putih mulus yang selalu membuat orang-orang memuji kecantikannya. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggang, payudaranya kecil tapi kencang, pinggulnya ramping, dan wajahnya polos seperti gadis SMA yang belum ternoda. Tapi pandemi telah merenggut segalanya. Pekerjaan sebagai barista di kafe kecil lenyap, tabungan habis, tagihan numpuk, dan perutnya sering keroncongan hanya karena nasi instan. Dia sudah berhari-hari hanya makan mie apa adanya, tidur dengan perut lapar, dan air mata sering mengalir diam-diam di malam hari. Rasa putus asa itu seperti belati yang menusuk lambat, membuatnya merasa seperti sampah yang tak berharga.
Malam itu, pesan dari teman lamanya, Rina, masuk. “Din, ada job cepet. Satu malam aja, bayarannya 15 juta. Cuma nemenin om-om di apartemen mewah. Kamu cantik banget, pasti dia suka.” Dinda membaca pesan itu berulang kali sampai layar HP mati. Lima belas juta. Itu cukup untuk bayar kos setahun, makan enak berbulan-bulan, bahkan kirim uang ke ibunya di kampung. Tapi dia tahu artinya: menjual tubuh. Dia belum pernah sekalipun berhubungan seks berbayar. Bahkan pacar terakhirnya hanya sampai ciuman dan peluk biasa. Tapi perutnya lapar lagi malam itu, lemari es kosong total, dan dia sudah tiga hari tak makan nasi. Air matanya jatuh pelan. “Ya Tuhan… aku harus survive,” gumamnya lirih sambil mengetik balasan, “Oke Rin, aku mau.”
Sore hari berikutnya, Rina menjemputnya dengan motor butut. Dinda memakai dress sederhana warna hitam yang agak ketat, rambut dicepol tinggi, wajah dirias tipis agar terlihat lebih dewasa. Jantungnya berdegup kencang sepanjang perjalanan, seperti drum perang yang tak henti. “Santai aja Din, cuma satu malam. Om-nya baik kok,” kata Rina sambil tersenyum, tapi Dinda hanya mengangguk lemah, tangannya dingin berkeringat.
Apartemen itu megah, lobi ber-AC dingin dengan lantai marmer mengkilap. Di sofa kulit putih, seorang pria berusia sekitar 45 tahun duduk sambil main HP. Tubuhnya biasa saja, agak buncit, tapi matanya tajam penuh nafsu saat melihat Dinda. “Ini Dinda, Bang Andy,” kata Rina cepat lalu buru-buru pamit, meninggalkan Dinda sendirian dengan pria itu. Pintu lift tertutup, hanya mereka berdua. Andy tersenyum ramah, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat bulu kuduk Dinda berdiri.
Di lift, Andy bertanya hal-hal ringan: kuliahnya dulu, hobi, keluarga. Dinda menjawab pendek-pendek, suaranya bergetar pelan. Lift berhenti langsung di lantai 12—apartemen penthouse seluas rumah. Ruang tamunya luas, sofa kulit putih, TV 80 inci, jendela kaca besar menghadap kota yang berkilau malam. Andy menyodorkan jus jeruk dingin. Dinda memegang gelas dengan tangan gemetar, meneguk pelan untuk menenangkan diri.
Mereka ngobrol berjam-jam. Andy cerita tentang bisnisnya, Dinda cerita susahnya hidup di pandemi. Waktu berlalu tanpa terasa, malam semakin larut. Andy mengajaknya ke restoran di lantai bawah apartemen—fine dining dengan lampu temaram romantis. Makan malamnya enak, steak lembut, wine mahal, tapi Dinda hanya memain mata, perutnya kenyang untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Saat dessert tiba, Andy mengeluarkan dua butir pil putih kecil dari saku jaketnya. “Vitamin biar kamu tahan malam ini, sayang. Nanti capek loh kalau nggak minum ini,” katanya lembut tapi tegas.
Dinda ragu sesaat, tapi ingatan akan kosongnya dompet membuatnya menelan pil itu begitu saja bersama air putih. Rasa pahit samar terasa di lidah, tapi dia abaikan. Setelah makan, mereka kembali ke penthouse. Andy menyuruhnya duduk di sofa, nyalakan Netflix, “Santai dulu ya, baru makan berat.” Dinda duduk kaku, menonton drama Korea tanpa benar-benar melihat. Tubuhnya mulai aneh—panas dari dalam, jantung berdegup lebih cepat, putingnya mengeras sendiri tanpa disentuh, dan selangkangannya basah pelan. Dia menggeser posisi duduk berkali-kali, malu karena celana dalamnya mulai lembab.
Satu jam kemudian, Andy berdiri. “Ayo masuk kamar, sayang.” Dinda mengikuti dengan langkah gontai. Kamar tidurnya luas, ranjang king size dengan sprei putih bersih, lampu remang-remang kuning keemasan. Bau parfum maskulin Andy memenuhi ruangan. “Buka baju kamu semua, terus naik ke kasur,” perintah Andy tenang.
Dinda menurut. Jari-jarinya gemetar saat menarik resleting dress, bra, celana dalam. Telanjang bulat, dia naik ke ranjang, berbaring telentang, kakinya rapat malu. Tubuhnya kecil sekali di atas kasur besar itu, seperti boneka hidup. Andy hanya tersenyum, lalu mengambil tas hitam besar dari lemari. Di dalamnya… puluhan rol lakban putih lebar.
Dinda langsung duduk. “Bang… ini apa?”
“Diam aja, nanti kamu ngerti.” Andy naik ke kasur, suaranya dingin tapi penuh kendali.
Dia meraih tangan kanan Dinda, memaksa jari-jari kecilnya menyentuh pundak kanan sendiri—posisi chicken wing. Lakban ditarik keras—RRRRRIPPP—suara robekan kasar memecah keheningan. Lakban melilit cepat, ketat, dari pergelangan sampai siku, lalu ke bahu. Dinda menjerit kecil, “Bang… sakit… lepaskan…” tapi Andy tak peduli. Dalam hitungan menit, lengan kanannya jadi seperti sayap ayam yang terlipat paksa, tak bisa digerakkan sama sekali. Rasa lakban yang lengket menekan kulit membuatnya panik. Lengan kirinya menyusul—sama ketat, sama menyakitkan. Napas Dinda memburu, dadanya naik turun cepat.
Lalu Andy mulai dari leher. Lakban melilit lehernya perlahan, tidak terlalu ketat agar masih bisa bernapas, tapi cukup membuatnya sulit menelan. Turun ke dada—payudara kecilnya ditekan rata oleh lakban, putingnya terjepit sakit tapi anehnya terasa nikmat karena obat. Perut rata, pinggul, sampai paha atas. Setiap lilitan membuat tubuhnya semakin kaku, seperti mumi hidup.
Dinda mulai menangis pelan. “Bang… aku takut… lepaskan aku…”
“Belum, sayang. Kaki dulu.”
Dia membaringkan Dinda telentang, menekuk kaki kanannya—tumit menyentuh pantat—lalu melilit lakban dari lutut sampai mata kaki, menyatukannya dengan paha. Kaki kanannya jadi buntet, hanya pendek seperti kodok. Kaki kiri sama. Dinda meronta, tubuhnya bergoyang-goyang, tapi semakin dia bergerak, lakban semakin menggigit kulit. Andy terus melilit sampai seluruh tubuh Dinda tertutup lakban putih mengkilat, hanya menyisakan lubang vagina dan anusnya yang terbuka lebar—merah muda, sudah basah karena obat.
Sekarang Dinda benar-benar tak berdaya. Tubuhnya terlipat dalam posisi frog-tie yang memalukan—lutut terbuka lebar, vagina dan anus terpampang tanpa bisa ditutup. Andy menyuruhnya meronta sekuat tenaga. Dinda menangis, menggeliat, mencoba mengangkat pinggul, memuntir badan—dan benar saja, beberapa lilitan lakban mulai longgar. Andy menggeram kesal, mengambil rol baru, melilit lagi lebih ketat, lebih banyak lapisan. Sekarang dua lapis tebal. Saat Dinda meronta lagi, tubuhnya hanya bergoyang pelan seperti ikan mati—tak ada yang lepas. Dia menangis tersedu, air mata mengalir ke telinga.
Andy mengambil HP, memotret dari berbagai sudut. Flash menyilaukan. Lalu dia berbaring di samping Dinda, tangannya mengelus lakban di dada Dinda.
“Dinda kenapa mau di-booking?” tanyanya lembut tapi penuh ejekan.
Dinda terisak, “Dinda… nggak punya pilihan, Bang… Dinda harus makan…”
“Bagus. Terus sekarang rasanya gimana?”
“Dinda takut banget… Dinda nggak bisa gerak sama sekali… kenapa Dinda dibungkus gini, Bang? Lepaskan Dinda…” suaranya pecah.
Andy tertawa kecil. “Kamu harus takut. Dan kamu harus menikmati. Ingat—jangan nangis. Kalau nangis, hidungmu mampet, kamu mati kehabisan napas. Nanti Abang punya tamu, mereka nggak peduli kamu sesak atau nggak.”
Dinda membelalak. “Maksudnya… tamu?”
“Buka mulut lebar-lebar.”
Dinda takut sekali, tapi patuh. Saat mulutnya terbuka, Andy langsung mendorong stoking kotor yang sudah digulung keras ke dalam mulutnya—rasanya asin, bau keringat. Dinda menggeleng keras, “Mmmppfff! Mmmppfff!” tapi Andy menekan kepalanya, terus memaksa sampai stoking masuk penuh sampai tenggorokan. Dinda tersedak, air liur menetes.
Lalu plastik bening tebal dililitkan ke kepalanya—sekali, dua kali—napasnya mulai sesak. Lakban ditarik dari dagu ke atas kepala, menarik dagunya ke atas paksa, mulut tertutup rapat. Lilitan demi lilitan sampai seluruh kepalanya tertutup lakban, hanya menyisakan lubang hidung kecil dan mata yang ketakutan. Dinda menangis keras sekarang, tapi air mata hanya mengalir di dalam plastik—hidungnya mulai tersumbat ingus.
Andy berbisik di telinganya, “Kalau nangis terus, kamu mati sesak. Paham?”
Dinda mengangguk cepat, menahan tangis. Tapi saat Andy membuka pintu kamar, tiga pria masuk: satu om tua kurus berusia 60-an, dan dua bule negro tinggi besar berotot—kulitnya hitam mengkilap, celana sudah melotot penuh tonjolan besar.
Mata Dinda membelalak horor. Dia meronta habis-habisan—tubuh lakban putihnya bergoyang liar di kasur seperti cacing kepanasan. “MMMMMFFFFFFFFFFFFF!!! MMMMFFFFFFFFFF!!!” jeritannya tertahan gag, hanya bunyi mmmppff mmmppff memilukan.
Andy tertawa. “Kedap suara, sayang. Lantai 12, nggak ada yang denger.”
Dia melilit mata Dinda dengan lakban terakhir—sekarang Dinda benar-benar buta, hanya gelap dan ketakutan absolut. Tubuhnya ditarik kasar ke tepi kasur oleh salah satu negro. Kedua lututnya yang terlipat dibuka lebar paksa—vaginanya terbuka maksimal, bibirnya kecil merah muda, masih keket karena jarang disentuh.
“Wow… very tiny pussy… so fucking tight…” suara berat negro itu sambil langsung menunduk, lidahnya panjang dan tebal menjilati vagina Dinda dari bawah ke atas, menghisap klitorisnya keras.
“MMMMMMPPPPPFFFFFFFFFF!!!” Dinda menjerit dalam gag, tubuhnya melengkung sekuat tenaga, tapi tak bisa kabur. Lidah itu masuk ke dalam lubangnya, mengorek-ngorek, bunyi “slurppp slurpp” basah memenuhi ruangan. Air liur negro menetes ke anusnya.
Om tua itu naik kasur, menarik tubuh Dinda ke tengah. Tanpa basa-basi, dia buka celana—penisnya kecil, cuma 10 cm, sudah keras. Dia mengarahkan ke lubang vagina Dinda yang sudah basah paksa karena obat dan jilatan.
“Aduh… masih perawan ya, dek? Kok sempit banget…” katanya sambil mendorong.
Dinda menggeleng keras, “MMMMMMMFFFFFFFF!!!” Air matanya membanjiri plastik di wajahnya.
Om itu terus mendorong—kepala penisnya masuk, lalu pelan-pelan seluruhnya. Dinda merasakan robekan kecil di dalam—dia memang bukan perawan, tapi sudah dua tahun tak disentuh sama sekali. Rasa penuh dan nyeri membuatnya menjerit dalam hati. Om itu mulai genjot pelan, “Enak banget… rapet amat…” Dia keluar masuk, tangannya meremas lakban di payudara Dinda.
Kurang dari lima menit, om itu sudah menggeliat, “Aaaahhh… keluar…” Dia menyemprot dalam-dalam, cairannya hangat mengisi vagina Dinda. Lalu turun, duduk di sofa sambil napas ngos-ngosan.
Sekarang giliran negro pertama.
Dia buka celana—penisnya muncul seperti monster. Panjang 23 cm, tebal seperti pergelangan tangan Dinda, urat-uratnya menonjol, kepalanya besar mengkilat. Dia naik kasur, memegang pinggul lakban Dinda, mengarahkan kepala penis raksasa itu ke lubang kecilnya yang baru saja dipakai om tadi—masih merah dan bercairan sperma.
“Relax, little slut… this gonna hurt so good…” katanya sambil tertawa.
Dinda merasakan tekanan mengerikan—kepala penis itu menekan bibir vaginanya, merenggangkannya paksa. “MMMMMMMFFFFFFFFFFFFF!!!” jeritan paling keras yang pernah dia keluarkan, tubuhnya mengejang seperti disetrum. Rasa robek beneran sekarang—dia merasa vaginanya mau koyak. Negro itu terus dorong, 5 cm masuk, 10 cm, setiap sentimeter membuat Dinda menangis darah dalam hati. Akhirnya setengah masuk—sudah mentok rahimnya. Dia mulai genjot pelan, lalu semakin cepat. Bunyi “plok plok plok” keras saat tubuhnya menabrak lakban di pantat Dinda.
Setelah sepuluh menit penuh raungan tertahan Dinda, negro itu menggeram, menyemprot jauh ke dalam rahimnya—cairannya banyak sekali, meluap keluar dari sela-sela penis raksasa itu. Dia cabut, vaginanya menganga lebar, merah bengkak, sperma putih kental mengalir ke anus.
Negro kedua langsung ganti. Penisnya lebih tebal lagi, hampir 6 cm diameter. Dia memutar tubuh Dinda—sekarang posisi doggy tapi tetap terlipat frog-tie—lalu langsung sodok dari belakang. Kali ini lebih brutal. Dia memegang lakban di pinggul Dinda seperti pegangan, menarik tubuh kecil itu bolak-balik ke penisnya. Dinda sudah tak bisa menjerit lagi—hanya “mmmpp… mmmpp…” lemah. Vaginanya terasa terbakar, robek dalam, setiap dorong membuatnya seperti dihancurkan.
Negro kedua lebih lama—hampir 20 menit. Dia semprot dua kali—sekali di vagina, sekali cabut dan semprot di lakban pantatnya. Dinda sudah setengah pingsan, tubuhnya lemas berkedut-kedut, vagina menganga lebar seperti terowongan, sperma tiga pria bercampur mengalir deras ke sprei.
Andy membuka lakban mata Dinda pelan-pelan. Cahaya lampu menyilaukan. Dia tersenyum puas melihat wajah Dinda yang penuh air mata, ingus, dan air liur.
“Kerja bagus, sayang. Kamu selesai tugas malam ini.” Dia membuka semua lakban perlahan—proses yang sama menyakitkannya dengan saat dipasang. Kulit Dinda merah parah, bekas lakban membandel. Saat gag di mulut dibuka, Dinda langsung muntah sperma dan cairan lambung ke sprei.
Andy membawakan handuk hangat, membersihkan tubuhnya lembut, lalu memberi segelas air. Dinda meneguk rakus, tubuhnya gemetar hebat.
Setelah satu jam, Dinda sudah bisa duduk di sofa dengan selimut, masih telanjang tapi kini bebas. Andy duduk di sebelahnya, mengelus rambutnya.
“Kamu hebat malam ini. Mereka puas semua. Ini bayaranmu,” dia menyodorkan amplop tebal—15 juta cash.
Dinda memeluk amplop itu seperti pelindung hidup.
“Tapi… kalau kamu mau tugas lagi minggu depan, ada yang lebih seru. Lima orang, termasuk dua negro yang tadi ditambah tiga lagi—semua penis di atas 20 cm. Mainnya full night, termasuk anal training, dan kamu akan dipakai bergantian tanpa henti. Bayarannya 50 juta. Mau?”
Dinda menatap amplop di tangannya, lalu menatap Andy. Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di matanya—campuran ketakutan, pasrah, dan… sedikit rasa penasaran yang diciptakan obat dan pengalaman barusan.
Dia mengangguk pelan. “Mau, Bang…” suaranya serak, tapi pasti.