Menjadi Anjing Seks Pak Anton Seharian Dalam Bungkus Lakban
Dinda adalah gadis mungil yang sungguh memikat, dengan tinggi hanya 145 cm, tubuhnya proporsional sempurna, ramping namun berisi di bagian yang membuatnya terlihat seperti siswi SMP yang polos dan menggoda. Payudaranya kecil tapi kencang, pinggulnya melengkung lembut, dan wajahnya imut dengan mata besar serta bibir mungil yang selalu tersenyum manis saat bekerja sebagai SPG alat kebersihan. Hari itu, dia mendapat pesanan khusus: datанг ke rumah Pak Anton, seorang pria paruh baya kaya raya, untuk “mendemonstrasikan” cara menggunakan penghisap debu baru yang dia beli. Dinda tak curiga apa-apa; ini modus biasa untuk SPG seperti dia, sering diminta datang ke rumah pelanggan demi komisi ekstra.
Sesampainya di rumah mewah Pak Anton di pinggiran kota, Dinda disambut ramah. Pak Anton, pria gemuk berusia sekitar 50-an dengan senyum licik, dan temannya Michael yang lebih tinggi dan berotot, juga sekitar usia yang sama, menyambutnya di ruang tamu. Mereka menawarkan makan siang sambil mengobrol santai tentang produk. Dinda lapar setelah perjalanan jauh, jadi dia menerima hidangan lezat dan minuman segar yang disodorkan. Tak lama setelah menghabiskan segelas jus, kepala Dinda mulai pusing. Tubuhnya lemas, penglihatan kabur, dan sebelum sadar apa yang terjadi, dia ambruk tak berdaya di sofa.
Ketika Dinda membuka mata lagi, dunia sudah berubah total. Dia tak bisa bergerak bebas. Tubuhnya terbungkus rapat dalam posisi frogtie yang memalukan—lutut ditekuk ke atas dan diikat ke paha dengan tali kulit tebal, pergelangan tangan diikat ke pergelangan kaki sehingga dia meringkuk seperti anjing kecil yang siap kawin. Mulutnya dibungkam lakban hitam tebal, hanya menyisakan erangan tertahan. Dia telanjang bulat, pakaiannya entah ke mana. Panik melanda, Dinda mencoba meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat, hanya membuat tubuh mungilnya bergoyang lemah seperti boneka hidup. Dia seperti seekor anjing betina yang siap dipakai sesuka hati.
BABAK 1: Pemanasan di Kursi Pijat
Michael, pria berotot dengan senyum predator, mendekat dan dengan mudah menggendong tubuh Dinda yang ringan seperti boneka. Dia membawanya ke ruang khusus di basement rumah—ruangan gelap dengan kursi pijat besar di tengah. Di sana, Pak Anton sudah duduk santai, celananya turun, penisnya yang tegang keras—sekitar 16 cm dengan diameter sedang—sudah terbungkus kondom tipis, siap menyambut. Michael menggendong Dinda seperti bayi, tapi posisinya terbalik: bokong mungil Dinda diarahkan tepat ke atas penis Pak Anton.
“Ayo, turunkan pelan-pelan,” kata Pak Anton sambil tersenyum nakal.
Michael mulai menurunkan tubuh Dinda perlahan. Kepala penis Pak Anton menyentuh bibir vagina Dinda yang masih kering dan rapat—dia perawan di lubang itu, meski bukan gadis polos total. Dinda panik, matanya melebar, mencoba meronta tapi frogtie membuatnya tak berdaya. Perlahan, kepala penis masuk, merenggangkan dinding vagina ketatnya. Michael terus menurunkan hingga 50% penis tenggelam, lalu… dia lepaskan tangannya tiba-tiba!
Dinda jatuh bebas beberapa senti, dan SELURUH penis Pak Anton tenggelam sepenuhnya ke dalam vagina mungilnya. “MMMMMPPPHHH!!!” teriak Dinda tertahan di balik lakban, air mata mengalir. Rasa penuh yang menyakitkan tapi anehnya membangkitkan sensasi terlarang. Pak Anton tertawa, lalu mulai gerak sendiri—pinggulnya naik-turun, memompa vagina Dinda yang tak bisa melawan. Tubuh Dinda bergoyang seperti boneka seks, payudaranya kecil berguncang, bokongnya menghantam paha Pak Anton setiap turun.
15 menit berlalu dengan ritme kasar. Dinda awalnya menangis, tapi tubuh mungilnya mulai berkhianat—vagina basah sendiri, kenikmatan paksa merayap. Tiba-tiba tubuhnya gemetar hebat, kaki dan tangan mengejang dalam ikatan frogtie, tanda orgasme pertama yang memalukan! Pak Anton melihat itu, makin ganas—pantatnya naik-turun cepat seperti piston. “Aaaah, enak sekali memek kecilmu ini!” erangnya, sampai akhirnya sperma meledak dalam kondom, memenuhi vagina Dinda dengan panas yang terasa meski terhalang karet.
BABAK 2: Pelukan Anjing Michael
Tanpa istirahat, Michael langsung menggendong Dinda lagi, kali ini memeluknya dari belakang seperti memeluk anjing kesayangan—tangan kuatnya memegang paha Dinda yang terikat frogtie, tubuh mungilnya tergantung di pelukannya. Penis Michael sudah tegang maksimal: panjang 19 cm, diameter 6 cm—monster sejati yang membuat Dinda kaget saat merasakan kepala besarnya menyentuh vagina yang baru saja dipakai.
Pak Anton menyemprotkan pelumas dingin ke bibir vagina Dinda yang merah dan bengkak, lalu Michael mulai menurunkan tubuh Dinda perlahan. Kepala penis raksasa itu merenggangkan vagina Dinda hingga batas—rasa sakit bercampur nikmat paksa. Dinda meronta sekuat tenaga, tangan dan kaki bergoyang-goyang seperti anjing kecil yang berontak, tapi itu malah membuat penis Michael makin keras bergesekan. “Haha, lihat, dia suka!” kata Michael sambil tertawa.
Akhirnya, dengan dorongan pelan tapi tegas, seluruh 19 cm tenggelam mentok di rahim Dinda. “MMMMMHHHH!!!” jerit Dinda tertahan, tubuhnya gemetar. Michael mulai naik-turunkan tubuh Dinda dengan ritme teratur—pelan dulu, lalu makin cepat. Vagina Dinda yang mungil diregangkan habis-habisan, setiap turun terasa seperti ditusuk tombak panas.
Tak sampai 5 menit, tubuh Dinda gemetar lagi—oranggasme kedua datang paksa! Michael melihat itu, langsung ubah gaya: dia lompat kecil-kecil, membuat tubuh Dinda terangkat lalu jatuh keras ke penisnya. Bunyi “plok plok plok” basah terdengar keras. Kurang dari 3 menit, Dinda mengejang hebat lagi, kaki frogtie menendang udara tak berdaya. Michael mempercepat lompatannya sambil mengerang kasar, lalu… orgasme! Sperma panas memenuhi kondom dalam vagina Dinda yang sudah banjir.
BABAK 3: Pertunjukan Akhir Gantung
Michael menurunkan Dinda yang lemas ke kursi pijat. Pak Anton tersenyum puas, lalu mengambil dildo besar—20 cm, tebal, dilumuri pelumas—dan tanpa ampun mendorongnya ke anus Dinda yang masih perawan. “MMMMMPPHHH!!!” Dinda berontak gila-gilaan, air mata membanjiri wajah imutnya. Dildo itu dimainkan maju-mundur beberapa menit hingga anusnya menganga lebar, lalu mereka pasang harness pengaman panjat tebing di tubuh Dinda.
Michael mengangkat tubuh ringan Dinda dan mengaitkannya ke tali elastis bungee jumping yang tergantung di langit-langit—tubuhnya menggantung 1.2 meter dari lantai, posisi frogtie membuat bokong dan vaginanya terbuka lebar seperti ayunan seks hidup.
Michael mendekat dari depan, penisnya yang masih keras langsung tenggelam sempurna ke vagina Dinda—tinggi gantungan sudah diatur pas! Pak Anton dari belakang, kepala penisnya mendorong masuk ke anus yang baru dibuka dildo. Dinda kaget bukan main, meronta hingga tali bungee bergoyang liar. Tapi semakin dia berontak, semakin dalam penis Pak Anton masuk—akhirnya kedua penis raksasa itu tenggelam total: satu di vagina, satu di anus!
Double penetration paksa dimulai. Michael dan Pak Anton pegang pinggul Dinda, angkat sedikit lalu lepas—tubuh mungilnya memantul naik-turun di tali elastis seperti sex swing hidup. Bunyi basah “plok plok plok” dari dua lubang bergema. Dinda orgasme berkali-kali—tubuhnya kejang hebat, cairan squirting menyembur dari vagina setiap pantulan keras, tapi mereka tak peduli. Dia hanya mainan mereka sekarang.
Setelah puluhan menit, keduanya mendekati klimaks. Mereka buka kondom dengan cepat, lalu lanjut pompa lebih ganas lagi. Dinda sadar apa yang akan terjadi—matanya melebar ketakutan, meronta sekuat tenaga sambil menjerit tertahan “TIDAK!!! JANGAN DALAM!!!”. Tapi sia-sia.
Michael mengerang keras lebih dulu—sperma kental panas menyembur deras ke dalam vagina, memenuhi rahim Dinda hingga luber keluar. Beberapa detik kemudian Pak Anton ikut—cairan panas membanjiri anus dan usus Dinda, terasa mengalir dalam-dalam. Dinda menangis histeris di balik lakban, tubuhnya gemetar antara nikmat paksa dan rasa malu yang membakar.
Akhirnya tali dilepas. Tubuh Dinda ambruk ke lantai, penuh keringat, sperma menetes dari vagina dan anus yang menganga lebar. Napasnya tersengal, mata sayu. Pak Anton tersenyum, mengelus kepala Dinda seperti anjing piaraan, lalu menyodorkan amplop tebal. “Ini 20 juta untukmu, sayang. Kerja bagus hari ini.”
Dinda hanya bisa terdiam lemas. Untunglah hari itu bukan masa suburnya—sperma yang membanjiri rahimnya tak akan jadi janin. Tapi malam itu, tubuh mungilnya sudah berubah selamanya—menjadi milik dua pria tua yang akan memanggilnya lagi kapan saja mereka mau.